Esensi “Gimana hari ini?”

Bandung, 22 Agustus 2014

Udah genap seminggu lebih sejak gue kena kecelakaan. Gue belajar banyak hal. Tentang bagaimana gue harus memperbanyak ibadah, dimana sholat gue sering bolong-bolong dan ngaji dan ibadah sunnah lainnya cuma sekedar kadang-kadang, gak rutin.

Dan gue belajar arti menghargai orang lain. Setelah gue kecelakaan, gue hanya cerita ke orang-orang terdekat gue, yaitu temen-temen kontrakan, doi, dan beberapa orang. Ternyata betapa pentingnya sekadar iseng nanyain, “apa kabar?” ketika sedang berbicara sama temen kita.

Siapa tahu dia lagi dalam keadaan down dan butuh support kita pada saat itu juga, tapi malu atau sungkan untuk bercerita.

That’s it.

Hal yang mungkin bakal coba gue tanamin ke diri sendiri kelak, dan juga ke orang lain.

Sebenarnya ketika gue dan doi telfonan tiap malam juga, dia sering nanyain, “gimana hari ini?” dan ujung-ujungnya gue juga ketularan sih.

Ternyata nanyain “gimana hari ini” itu penting banget.

Begin (again) with english…

Bandung, April 12 2018.

Hello!

Finally I write again in this blog, sorry for the vacuum time in a long time. For you who just visit my blog, maybe get shocked because I write in english. But for you who had read my old blog, there were some of my posts that used english, just for fun. 😛

But now, I want to write consistanly again in english to improve again my english writing.

So, just enjoy my english post in the next, your criticsm and suggestion is waited! 🙂

Memasuki Puncaknya

Bandung, 22 Agustus 2017.

Saat ini aku mulai memasuki semester 5. Bagiku, semester ini bisa dibilang puncak-puncaknya baik dalam kegiatan akademik maupun non akademik yang sedang kujalani saat ini.

Dari sisi akademik, semester 5 ini adalah masa-masanya mata kuliah berat kuhadapi, seperti kecerdasan buatan, jaringan komputer, dan lainnya. Bahkan beberapa diantaranya aku berada di kelas yang dosennya bisa dibilang legendaris se-IF. Praktikum juga, yang biasanya satu semester hanya menjalani satu praktikum saja, di semester 5 ini kujalani dua praktikum. Beruntungnya, mata kuliah desain analisis algoritma sudah kuambil duluan di semester 3 lalu, sehingga beban sedikit berkurang.

Dari sisi non akademik, semester 5 ini adalah masa dimana kegiatan yang kuikuti demikian banyaknya. Mulai dari menjadi koordinator salah satu divisi di acara penghargaan wisudawan tingkat fakultas, sampai mencoba kepanitiaan yang baru saja digabung di jurusanku, yaitu InterFest.

Entah apa yang merasukiku, untuk terjun kedalam kepanitiaan besar ini. Dimana ia baru memulai lembaran baru yang pertama. Dimana ia waktu dulu masih terpecah menjadi tiga kepanitiaan dengan tujuannya masing-masing. Padahal, kontrakku sebagai asisten praktikum di fakultas sebelah masih sisa setahun lagi.

Berat ya, tapi entah kenapa aku menyukai ini.

Aku menikmatinya!

Biarkan, ini menjadi lembaran cerita berharga, pikirku.

Lembaran cerita yang belum tentu terasa sama, ketika ku sudah memulai kehidupan sebagai bukan mahasiswa lagi.

Lembaran cerita yang akan menyenangkan ketika diceritakan ke anakku kelak.

Cerita dengan siklus naik turun, tidak hanya berupa grafik datar semata.

Bahwa, bahagia tidak selalu berdasarkan ukuran angka semata, akan tetapi bagaimana berkolaborasi bersama orang lain untuk menciptakan sesuatu yang besar. 🙂

Kebahagiaan yang Berbeda Sisi

Surabaya, 8 Juli 2017

Kemarin adalah pengumuman hasil OSN 2017. Ikutan kepo juga sama hasilnya, karena adik kelas saya, dari SMA sebelah ada yang ikut di bidang komputer. Cukup mengejutkan, karena terakhir saya tahu dia aktifnya di bidang matematika dan sekarang berpindah haluan ke informatika. Alhamdulillah, diluar dugaan saya, ternyata dia dapat medali perunggu! Berbeda dengan dugaan (pesimis) saya karena melihat peringkat di scoreboard kemarin pada hari pertama, hehehe. 🙁

Langsung saya ucapkan selamat, dan muncul suatu ucapan dari saya,

“Wah, tahun depan ke STEI ITB berarti ya hehehe”

Karena melihat sekolahnya, yang tiap tahun selalu langganan ke ITB semua di SNMPTN. Apalagi dengan prestasinya sebagai peraih medali perunggu, sudah menjadi nilai plus untuk bisa diterima disana dengan prestasi tersebut. Akan tetapi, justru yang dia tanyakan adalah kampus saya. Ketika saya tanyakan lagi, dia berkata.

“Sering denger lingkungan di ITB itu kaya SMA 3, dan aku udah gak kuat parah sama lingkungan di SMA 3, apalagi entar”

Tiba-tiba saya tertegun sendiri. Ternyata dibalik sosoknya yang pintar, tersimpan sebuah kejenuhan yang amat dalam di dirinya. Bagaimana tidak, dari SMP di favorit se-Kota, SMA juga favorit se-Kota, tinggal satu langkah lagi menuju kampus favorit juga, akan tetapi tersimpan kejenuhan yang amat sangat.

Teringat akan saya dulu yang sudah belajar mati-matian juga untuk olimpiade sains. Di OSK 2014, saya berada di peringkat 10 sementara yang diambil 9 orang, padahal skor saya sama dengan peringkat 9 tersebut, 70 poin, jumlah yang cukup besar untuk skor OSK di kota lain. Disitu saya merasa kesal dan juga frustasi.

Kebahagiaan dari sisi ambisi untuk mengejar prestasi setinggi-tingginya, kandas.

Tapi, setelah saya mengikuti kepanitiaan bazar Five Live, untuk melupakan sejenak sakitnya kejadian kemarin itu.

Lalu, dengan kegagalan dua kali seleksi SNMPTN dan SBMPTN, akhirnya saya memasuki kampus Telkom.

Ikut jadi panitia gathering angkatan IF 2015 dengan panitianya maba itu sendiri, karena gak mau kalah sama kampus sebelah yang bikin gathering angkatan juga.

Ikutan berbagai macam kepanitiaan di informatika.

Ternyata saya bahagia, dari sisi yang lain. 🙂

~~~

Terlepas dari lamunan, akhirnya kembali sadar dan menceritakan kehidupan di Telkom dan Informatika itu bagaimana. Dan, she is so excited.

“Huwaa aku ingin, jadi lebih ingin ke Telkom”

Sampai jumpa di 2018 nanti, kalau kamu konsisten dan tidak berubah pikiran. 😀

 

Setahun di fisdas, gak terasa

Assalamu’alaikum wr. wb.

Weheee, akhirnya ada waktu buat nulis. Bukannya ada waktu sih, tapi ada kemauan. Waktu sih ada, cuma males aja hehehe, oke maafin, emang gini saya orangnya.

Jadi, beberapa minggu yang lalu, selesailah sudah proses rekruitasi asisten praktikum fisdas yang baru, yeeeay!

Akhirnya, selamat datang adik-adik asisten praktikum yang baru! Capek dah, ngurusin rekruitasi yang berbulan-bulan dari Februari dan akhirnya bisa selesai juga sekarang. Rekruitasi ini diakhiri dengan saya yang (pura-pura) jadi jahat ke adik-adik, ya yang selama ini saya selalu baik ketika di skenario semua kegiatan dari SMA, akhirnya sekarang mencoba untuk jadi sosok yang jahat, maafkan ya adik-adik, hehehe.

Sesuai judulnya, gak terasa ya udah setahun. Dulu sempet jadi pikiran berat sih, tentang kontrak asisten praktikum fisdas yang dua tahun lamanya. Banyak banget pikiran yang menghantui, seperti apakah betah disana, bakal hilang-hilangan, dan sebagainya. Tapi ternyata, meskipun sempat hilang-hilangan di awal, tapi akhirnya bisa setahun melewati ini.

Dengan munculnya adik-adik sebagai keluarga baru, menandakan kalau waktu yang tersisa sebagai asisten praktikum tinggal setahun lagi.

Setahun lagi, sebagai asisten praktikum.

Tapi kalau sebagai keluarga sih, rumah akan selalu terbuka bagi keluarga didalamnya.

Hmmmmmmmm

Mencoba Bertahan Hidup

Bandung, 8 Februari 2017.

Ini udah tahun kedua saya di kuliah.

Laptop saya, masih belum ganti, masih yang dulu, dengan spek seadanya.

Dan juga, udah setahun ini juga saya make operating system Linux dengan single OS, tanpa Windows. 🙂

Mungkin dulu benar-benar sebuah tantangan, pas mutusin buat mencoba untuk single OS dengan Linux.

Untuk kesenangan, berhubung kesenangan saya adalah nonton film, bukan game, jadi saya bisa mengatasi hal itu dengan mudah.

Dulu saya berpikir, yaudah cobain dulu aja deh berapa bulan make linux, kalo gak kuat ya balik lagi ke Windows.

Tapi ternyata gak terasa, dua tahun udah berlalu dan saya masih bisa bertahan.

Ternyata aplikasi open source gak seburuk yang dibayangkan, banyak juga alternatif aplikasi yang gak kalah kerennya dengan aplikasi keren tapi bajakan yang di Windows.

Ya suka ngerasa keren sih kalo ada temen yang nanya, “Eh sat, lu punya installan aplikasi blablabla gak?”

Dan dengan coolnya, saya menjawab, “Sori, gua make linux cuy,”

Keren. Cadas. Badai.

Dan, dengan sendirinya, gua telah belajar bagaimana cara untuk bertahan hidup di belantara informatika ini. 😀