Keberuntungan?

Bandung, 14 Januari 2017.

Bicara tentang keberuntungan itu memang lucu, karena seringkali itu tidak terduga akan datang. Menariknya adalah, keberuntungan yang tidak kita anggap sebagai sebuah kehadiran yang besar, ternyata berdampak besar terhadap jalan hidup kita.

Ya, padahal, perkataan yang seringkali terucap tuh

Iya ya, lagi beruntung aja makanya kejadian

Dari awal kuliah, banyak banget keberuntungan yang saya dapatkan yang ternyata berpengaruh besar.

  1. Lulus EPrT dan ECCT 

    Bukan sebuah rahasia lagi bahwa kalau kalian mahasiswa baru Telkom, di awal perkuliahan kalian akan menghadapi tes kemampuan bahasa inggris, yaitu EPrT untuk tes tulisnya, dan ECCT untuk tes kemampuan dalam komunikasi bahasa inggris.Mendengar itu dari awal, jujur saya tidak terlalu intens untuk belajar buat tes tersebut. Bahkan H-1 tes, disaat teman-teman asrama kamar saya pada bolak-balik panduan buku TOEFL, saya dengan tenangnya nonton anime semalaman.Ternyata begitu hasilnya keluar, puji syukur nilai EPrT dan ECCT saya lulus diatas nilai minimal yang ditentukan.

    Beruntungnya adalah pada saat kuliah Bahasa Inggris 1.

    Pada awal kuliah tersebut, dosennya bertanya siapa yang nilai EPrT dan ECCT lulus, alhasil saya mengacungkan tangan. Lalu beliau membicarakan sesuatu, yang ternyata bahwa mahasiswa yang EPrT dan ECCT-nya lulus ditawarkan untuk mendaftar sebagai ESAP Helper dan tidak perlu mengikuti kuliahnya.

    Dan, nilai Bahasa Inggris 1 sudah dijamin A.

    Ya bisa bayangkan sendiri kan gimana rasanya. 🙂

  2. Bela-belain datang tes alat fisdas, tanpa persiapan apa-apa 

    Jadi dulu sebenarnya saya tidak terlalu ada niatan untuk masuk laboratorium yang katanya paling bergengsi se-jurusan teknik di kampus Telkom ini. Saya hanya menjalani tes apa adanya sesuai kemampuan yang saya miliki.Tes tulis dua minggu yang saya bela-belain gak jadi ke Jogja, hahaha, akhirnya lolos. Lanjut ke tes ngajar, dengan persiapan yang matang pun, lolos.

    Permasalahan terjadi pada saat tes alat. Pada saat itu, baru dimulai opening ospek jurusan saya. Nah, hal tersebut berimbas pada tugas awal yang sangat buanyak. Dan karena saya ikut serta buat ngegerakin kelompok saya untuk mengerjakan tugas osjur bersama, alhasil untuk seleksi fisdas saya sampingkan dulu.

    Fatalnya, tidak terasa bahwa sudah H-1 tes alat dan saya MASIH BELUM BELAJAR. Ini riskan banget, bahkan ada teman jurusan saya yang langsung mengundurkan diri (dia salah satu yang lolos seleksi sebelumnya juga di fisdas).

    Saya jadi bimbang juga, karena belum belajar. Bahkan ketika saya balik ke kosan untuk ganti baju buat tes alat fisdas, pikiran saya masih dilanda kebimbangan untuk lanjut atau tidak.

    Puncaknya adalah ketika di sampai parkiran teknik, masih dengan posisi duduk di motor, benar-benar bimbang untuk menentukan pilihan apakah tancap gas balik lagi ke kontrakan dan mengundurkan diri seleksi, atau lanjut buat seleksi dengan resiko gak ngerti apa-apa.

    Akhirnya saya mengambil pilihan untuk tetap menyelesaikan yang ada. Gak tahu kenapa keingetan aja pepatah bahwa jangan kalah sebelum berperang, hahaha. Ya akhirnya saya putuskan untuk lanjut ikutan seleksi dengan persiapan yang sangat minim.

    Dan benar saja, disana saya sangat improve buat tes alat, bener-bener kacau dah.

    Tapi ternyata setelah pengumuman tes alat dipublikasi minggu depan, SAYA LOLOS.

    Bahkan seiring dengan seleksi yang saya jalani selanjutnya, saya bisa berdiri disini, sebagai asisten praktikum Laboratorium Fisika Dasar.

    Keberuntungan-lah yang membuat saya memilih untuk siap mati saat tes alat, tapi ternyata hasilnya bisa semanis ini. 🙂

  3. Terlahir di keluarga yang disiplin

    Pada saat saya kecil dulu, saya didik dengan cara disiplin.Ingat disiplin berbeda dengan keras ya, hehehe.Jadi disiplin disini tuh, saya dibiasakan dengan banyak aturan. Seperti saya harus pulang ke rumah jam berapa, saya harus tidur jam berapa, saya harus bangun jam berapa, saya harus makan setiap jam berapa.

    Bahkan untuk jajan saja, saya tidak dibiasakan untuk hal tersebut. Jadi pas SD, saat teman-teman yang lain beli jajanan di kantin, saya sudah cukup dengan bekal makanan dan minuman dari rumah. Kadang-kadang sih dikasih uang jajan, itupun hanya seribu rupiah. Tapi dengan uang segitu pada jaman SD dulu tuh seneng kok, karena bisa saya pakai buat beli teh sisri atau arinda (masih ada gak ya jajanan itu hahaha).

    Impactnya terasa saat SMP. Jadi saat SMP, saya bersekolah di SMP yang mengharuskan untuk naik angkot setiap harinya. Jadi mau gak mau saat itu saya diberi uang jajan setiap harinya. Terasa sekali karena saya terbiasa untuk tidak jajan saat SD, jadi saya terbiasa untuk menahan diri tidak membeli jajanan yang tidak terlalu penting. Kalau habis ya udah, kalau sisa ditabung, sampai cukup buat beli buku. :))

    Keberuntungan saya rasakan saat kemarin, orangtua saya bilang kalau cara mendidik orangtua itu berbeda-beda, tidak bisa disamakan cara mendidik orangtua kita dengan orangtua teman kita yang lain.

    Mungkin kita pada saat bayi, jangankan berpikir untuk masa depan, bahkan ditempatkan di rahim siapa pun kita masih belum tahu dimana, hanya Tuhan yang menentukan. Dan, sebuah keberuntungan saya bisa dilahirkan di tengah keluarga yang mendidik saya dengan cara seperti ini. 🙂

~~~

Berapa kali kita bergumam bahwa itu hanya keberuntungan saja sih, mungkin harus diimbangi juga dengan

Bersyukur!

Ya, karena keberuntungan itu tidak semata-mata datang. Tetapi memang sudah digariskan oleh Tuhan. 🙂

 

Bagikan!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *