Memasuki Puncaknya

Bandung, 22 Agustus 2017.

Saat ini aku mulai memasuki semester 5. Bagiku, semester ini bisa dibilang puncak-puncaknya baik dalam kegiatan akademik maupun non akademik yang sedang kujalani saat ini.

Dari sisi akademik, semester 5 ini adalah masa-masanya mata kuliah berat kuhadapi, seperti kecerdasan buatan, jaringan komputer, dan lainnya. Bahkan beberapa diantaranya aku berada di kelas yang dosennya bisa dibilang legendaris se-IF. Praktikum juga, yang biasanya satu semester hanya menjalani satu praktikum saja, di semester 5 ini kujalani dua praktikum. Beruntungnya, mata kuliah desain analisis algoritma sudah kuambil duluan di semester 3 lalu, sehingga beban sedikit berkurang.

Dari sisi non akademik, semester 5 ini adalah masa dimana kegiatan yang kuikuti demikian banyaknya. Mulai dari menjadi koordinator salah satu divisi di acara penghargaan wisudawan tingkat fakultas, sampai mencoba kepanitiaan yang baru saja digabung di jurusanku, yaitu InterFest.

Entah apa yang merasukiku, untuk terjun kedalam kepanitiaan besar ini. Dimana ia baru memulai lembaran baru yang pertama. Dimana ia waktu dulu masih terpecah menjadi tiga kepanitiaan dengan tujuannya masing-masing. Padahal, kontrakku sebagai asisten praktikum di fakultas sebelah masih sisa setahun lagi.

Berat ya, tapi entah kenapa aku menyukai ini.

Aku menikmatinya!

Biarkan, ini menjadi lembaran cerita berharga, pikirku.

Lembaran cerita yang belum tentu terasa sama, ketika ku sudah memulai kehidupan sebagai bukan mahasiswa lagi.

Lembaran cerita yang akan menyenangkan ketika diceritakan ke anakku kelak.

Cerita dengan siklus naik turun, tidak hanya berupa grafik datar semata.

Bahwa, bahagia tidak selalu berdasarkan ukuran angka semata, akan tetapi bagaimana berkolaborasi bersama orang lain untuk menciptakan sesuatu yang besar. 🙂

Bagikan!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Kebahagiaan yang Berbeda Sisi

Surabaya, 8 Juli 2017

Kemarin adalah pengumuman hasil OSN 2017. Ikutan kepo juga sama hasilnya, karena adik kelas saya, dari SMA sebelah ada yang ikut di bidang komputer. Cukup mengejutkan, karena terakhir saya tahu dia aktifnya di bidang matematika dan sekarang berpindah haluan ke informatika. Alhamdulillah, diluar dugaan saya, ternyata dia dapat medali perunggu! Berbeda dengan dugaan (pesimis) saya karena melihat peringkat di scoreboard kemarin pada hari pertama, hehehe. 🙁

Langsung saya ucapkan selamat, dan muncul suatu ucapan dari saya,

“Wah, tahun depan ke STEI ITB berarti ya hehehe”

Karena melihat sekolahnya, yang tiap tahun selalu langganan ke ITB semua di SNMPTN. Apalagi dengan prestasinya sebagai peraih medali perunggu, sudah menjadi nilai plus untuk bisa diterima disana dengan prestasi tersebut. Akan tetapi, justru yang dia tanyakan adalah kampus saya. Ketika saya tanyakan lagi, dia berkata.

“Sering denger lingkungan di ITB itu kaya SMA 3, dan aku udah gak kuat parah sama lingkungan di SMA 3, apalagi entar”

Tiba-tiba saya tertegun sendiri. Ternyata dibalik sosoknya yang pintar, tersimpan sebuah kejenuhan yang amat dalam di dirinya. Bagaimana tidak, dari SMP di favorit se-Kota, SMA juga favorit se-Kota, tinggal satu langkah lagi menuju kampus favorit juga, akan tetapi tersimpan kejenuhan yang amat sangat.

Teringat akan saya dulu yang sudah belajar mati-matian juga untuk olimpiade sains. Di OSK 2014, saya berada di peringkat 10 sementara yang diambil 9 orang, padahal skor saya sama dengan peringkat 9 tersebut, 70 poin, jumlah yang cukup besar untuk skor OSK di kota lain. Disitu saya merasa kesal dan juga frustasi.

Kebahagiaan dari sisi ambisi untuk mengejar prestasi setinggi-tingginya, kandas.

Tapi, setelah saya mengikuti kepanitiaan bazar Five Live, untuk melupakan sejenak sakitnya kejadian kemarin itu.

Lalu, dengan kegagalan dua kali seleksi SNMPTN dan SBMPTN, akhirnya saya memasuki kampus Telkom.

Ikut jadi panitia gathering angkatan IF 2015 dengan panitianya maba itu sendiri, karena gak mau kalah sama kampus sebelah yang bikin gathering angkatan juga.

Ikutan berbagai macam kepanitiaan di informatika.

Ternyata saya bahagia, dari sisi yang lain. 🙂

~~~

Terlepas dari lamunan, akhirnya kembali sadar dan menceritakan kehidupan di Telkom dan Informatika itu bagaimana. Dan, she is so excited.

“Huwaa aku ingin, jadi lebih ingin ke Telkom”

Sampai jumpa di 2018 nanti, kalau kamu konsisten dan tidak berubah pikiran. 😀

 

Bagikan!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Setahun di fisdas, gak terasa

Assalamu’alaikum wr. wb.

Weheee, akhirnya ada waktu buat nulis. Bukannya ada waktu sih, tapi ada kemauan. Waktu sih ada, cuma males aja hehehe, oke maafin, emang gini saya orangnya.

Jadi, beberapa minggu yang lalu, selesailah sudah proses rekruitasi asisten praktikum fisdas yang baru, yeeeay!

Akhirnya, selamat datang adik-adik asisten praktikum yang baru! Capek dah, ngurusin rekruitasi yang berbulan-bulan dari Februari dan akhirnya bisa selesai juga sekarang. Rekruitasi ini diakhiri dengan saya yang (pura-pura) jadi jahat ke adik-adik, ya yang selama ini saya selalu baik ketika di skenario semua kegiatan dari SMA, akhirnya sekarang mencoba untuk jadi sosok yang jahat, maafkan ya adik-adik, hehehe.

Sesuai judulnya, gak terasa ya udah setahun. Dulu sempet jadi pikiran berat sih, tentang kontrak asisten praktikum fisdas yang dua tahun lamanya. Banyak banget pikiran yang menghantui, seperti apakah betah disana, bakal hilang-hilangan, dan sebagainya. Tapi ternyata, meskipun sempat hilang-hilangan di awal, tapi akhirnya bisa setahun melewati ini.

Dengan munculnya adik-adik sebagai keluarga baru, menandakan kalau waktu yang tersisa sebagai asisten praktikum tinggal setahun lagi.

Setahun lagi, sebagai asisten praktikum.

Tapi kalau sebagai keluarga sih, rumah akan selalu terbuka bagi keluarga didalamnya.

Hmmmmmmmm

Bagikan!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Story About Applying for Internship in Jurnal

Assalamu’alaikum, selamat malam! 😀

Di postingan kali ini saya mau cerita sedikit tentang pengalaman kemarin. Jadi sebulan yang lalu saya iseng buat nyoba seleksi internship ke salah satu perusahaan startup yang berada di Jakarta, yaitu Jurnal. Alhamdulillah, dengan proses seleksi yang terdiri dari beberapa tahap, saya diterima di posisi Software Developer Intern. Mungkin buat pembaca blog disini yang tertarik untuk mencoba apply baik untuk fulltime atau untuk intern disini, bisa disimak tulisan ini, hehehe.

Hemh, jadi Jurnal ini adalah perusahaan kelima (iya, kelima kalo gak salah) yang saya coba. Jurnal sendiri berlokasi di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Berdasarkan riset yang saya telusuri, perusahaan ini bergerak di bidang Software Accounting. Jadi aplikasi dari Jurnal ini membantu proses pembukuan dalam akuntansi secara online dengan data yang tersimpan dalam cloud computing. Sempat masuk ke berita juga, salah satunya disini.

Pertama mungkin saya ceritakan pada saat tahap apply. Untuk apply sendiri, saya tidak terlalu mempersiapkan diri secara khusus buat CV. Berhubung saya males buat ngonsep desain untuk CV (karena bukan posisi UI/UX juga), jadi untuk CV saya cukup export dari profil LinkedIn. Oh iya for information, untuk apply sekarang tidak harus datang ke tempat kok, terutama untuk perusahaan-perusahaan startup, karena banyak yang menyediakan fitur apply secara online, biasanya di halaman sidebar bawah website mereka ada link ‘Career’/’Karir’ dan sejenisnya.

Setelah apply, beberapa hari kemudian ada email masuk terkait dengan pre-screening test dari Jurnal. Pre-screening test disini berupa test kemampuan coding. Total soal tuh ada empat buah. Satu soal implementasi salah satu struktur data, satu soal tentang implementasi konsep OOP, dan dua soal algoritma. Mungkin buat yang mau tahu soalnya bisa coba apply dan ngerjain langsung ya. 😀

Beberapa minggu kemudian, saya ditelpon oleh pihak Jurnal langsung. Sempet gak percaya, ya karena saya udah pasrah sih kalo gak lolos karena ada solusi codingan saya yang masih belum optimal 🙁 . Dari pembicaraan di telpon itu, intinya membicarakan tentang tanggal Interview langsung di kantornya. Sempet excited, gak percaya bisa lolos juga 😀 . Tapi bimbang juga, karena saya plot hari wawancaranya tuh pas Jumat dan lupa kalau hari itu ada praktikum pas sorenya. 🙁

Langkah pertama, saya coba kontak salah satu aslab di IF Lab, kak Sahna. Intinya mau coba nego apakah bisa dapet izin untuk praktikum susulan dengan alasan interview magang. Ternyata gak bisa karena izin ikut praktikum susulan cuma bisa karena sakit atau dapet dispen dari fakultas. Langkah selanjutnya, meskipun ini lebih mustahil karena saya internship ini bukan untuk matkul kerja praktik, saya coba kontak Pak Said, beliau adalah bagian kemahasiswaan fakultas dan merangkap dosen wali saya juga. Tapi ajaibnya, ternyata beliau mendukung dan mau ngasih dispensasi, yeay. 😀

Dan hari itu, 10 Februari 2017, saya berangkat dari Bandung jam 11 siang. Meskipun wawancaranya sore jam 15.00, tapi berhubung mengantisipasi kemungkinan macet jadi saya berangkat lebih awal. Untuk perencanaan waktu saya sudah memperhitungkan dengan baik. Tapi, saya lupa kalau Jembatan Cisomang sedang diperbaiki dan bodohnya saya naik Bis Primajasa, itu kesalahan fatal pertama saya. Lalu kesalahan fatal kedua, saya berpikiran kalau bis saya (tujuan Kalideres) itu melewati Daan Mogot. Iya memang lewat, tapi ternyata rutenya itu muter jauh dulu ke Tangerang, baru berakhir di terminal Kalideres. Demi apapun itu bad banget.

Ekspetasi awal: datang paling lambat jam 14.00, sampai sana sempetin buat print scan sertifikat

Realita: datang jam 17.30 + lupa print scan sertifikat

Dibilang malu sih, jujur malu banget 🙁 . Sempet pengen langsung pulang aja dan gak interview. Tapi tiba-tiba jadi inget prinsip you only live once dan jangan kalah sebelum berperang, dan lagian udah dapet dispen dari fakultas juga, jadi saya memutuskan untuk coba dulu masuk ke kantornya.

Ternyata masih bisa interview, alhamdulillah 😀 . Interviewnya ada dua, yaitu interview dengan Human Resource (HR) dan interview teknis dengan bagian Technical. Poin utamanya sih di interview teknis, jadi disini kita disuruh jelasin langsung di papan tulis terkait dengan beberapa studi kasus, salah satunya berkaitan dengan algoritma dan pemrograman.

Mungkin cukup sekian dari tulisan ini. Overall saya ingin berterimakasih kepada:

  1. Allah swt. dan kedua orangtua. 😀
  2. Temen sekamar di kontrakan, Hadi Prasetyo (ig: @hadimhp), yang (kebetulan pas itu sama-sama skip APPL juga karena bangun kesiangan) udah mau nganterin sampai terminal
  3. Human Resources (HR) Jurnal, Kak Elliya Wijaya yang sudah mendampingi proses seleksi dari tahap awal sampai akhir, dan juga udah sabar nungguin saya untuk interview sampai 2,5 jam lebih huhuhu maaf ya kak. 🙁
  4. Kakak berkerudung yang bersedia untuk mengambil foto saya depan tulisan Jurnal ini, hemh lupa namanya, mungkin nanti saat intern saya cari tahu ya. 😀
  5. Pak Said, yang udah buat saya yakin untuk maju ke tahap interview dengan memberi dispensasi
  6. Seluruh elemen dari Jurnal yang sudah mempercayakan saya untuk diterima intern disini

Wassalamu’alaikum wr. wb., selamat malam! 😀

Bagikan!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Mencoba Bertahan Hidup

Bandung, 8 Februari 2017.

Ini udah tahun kedua saya di kuliah.

Laptop saya, masih belum ganti, masih yang dulu, dengan spek seadanya.

Dan juga, udah setahun ini juga saya make operating system Linux dengan single OS, tanpa Windows. 🙂

Mungkin dulu benar-benar sebuah tantangan, pas mutusin buat mencoba untuk single OS dengan Linux.

Untuk kesenangan, berhubung kesenangan saya adalah nonton film, bukan game, jadi saya bisa mengatasi hal itu dengan mudah.

Dulu saya berpikir, yaudah cobain dulu aja deh berapa bulan make linux, kalo gak kuat ya balik lagi ke Windows.

Tapi ternyata gak terasa, dua tahun udah berlalu dan saya masih bisa bertahan.

Ternyata aplikasi open source gak seburuk yang dibayangkan, banyak juga alternatif aplikasi yang gak kalah kerennya dengan aplikasi keren tapi bajakan yang di Windows.

Ya suka ngerasa keren sih kalo ada temen yang nanya, “Eh sat, lu punya installan aplikasi blablabla gak?”

Dan dengan coolnya, saya menjawab, “Sori, gua make linux cuy,”

Keren. Cadas. Badai.

Dan, dengan sendirinya, gua telah belajar bagaimana cara untuk bertahan hidup di belantara informatika ini. 😀

Bagikan!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Keberuntungan?

Bandung, 14 Januari 2017.

Bicara tentang keberuntungan itu memang lucu, karena seringkali itu tidak terduga akan datang. Menariknya adalah, keberuntungan yang tidak kita anggap sebagai sebuah kehadiran yang besar, ternyata berdampak besar terhadap jalan hidup kita.

Ya, padahal, perkataan yang seringkali terucap tuh

Iya ya, lagi beruntung aja makanya kejadian

Dari awal kuliah, banyak banget keberuntungan yang saya dapatkan yang ternyata berpengaruh besar.

  1. Lulus EPrT dan ECCT 

    Bukan sebuah rahasia lagi bahwa kalau kalian mahasiswa baru Telkom, di awal perkuliahan kalian akan menghadapi tes kemampuan bahasa inggris, yaitu EPrT untuk tes tulisnya, dan ECCT untuk tes kemampuan dalam komunikasi bahasa inggris.Mendengar itu dari awal, jujur saya tidak terlalu intens untuk belajar buat tes tersebut. Bahkan H-1 tes, disaat teman-teman asrama kamar saya pada bolak-balik panduan buku TOEFL, saya dengan tenangnya nonton anime semalaman.Ternyata begitu hasilnya keluar, puji syukur nilai EPrT dan ECCT saya lulus diatas nilai minimal yang ditentukan.

    Beruntungnya adalah pada saat kuliah Bahasa Inggris 1.

    Pada awal kuliah tersebut, dosennya bertanya siapa yang nilai EPrT dan ECCT lulus, alhasil saya mengacungkan tangan. Lalu beliau membicarakan sesuatu, yang ternyata bahwa mahasiswa yang EPrT dan ECCT-nya lulus ditawarkan untuk mendaftar sebagai ESAP Helper dan tidak perlu mengikuti kuliahnya.

    Dan, nilai Bahasa Inggris 1 sudah dijamin A.

    Ya bisa bayangkan sendiri kan gimana rasanya. 🙂

  2. Bela-belain datang tes alat fisdas, tanpa persiapan apa-apa 

    Jadi dulu sebenarnya saya tidak terlalu ada niatan untuk masuk laboratorium yang katanya paling bergengsi se-jurusan teknik di kampus Telkom ini. Saya hanya menjalani tes apa adanya sesuai kemampuan yang saya miliki.Tes tulis dua minggu yang saya bela-belain gak jadi ke Jogja, hahaha, akhirnya lolos. Lanjut ke tes ngajar, dengan persiapan yang matang pun, lolos.

    Permasalahan terjadi pada saat tes alat. Pada saat itu, baru dimulai opening ospek jurusan saya. Nah, hal tersebut berimbas pada tugas awal yang sangat buanyak. Dan karena saya ikut serta buat ngegerakin kelompok saya untuk mengerjakan tugas osjur bersama, alhasil untuk seleksi fisdas saya sampingkan dulu.

    Fatalnya, tidak terasa bahwa sudah H-1 tes alat dan saya MASIH BELUM BELAJAR. Ini riskan banget, bahkan ada teman jurusan saya yang langsung mengundurkan diri (dia salah satu yang lolos seleksi sebelumnya juga di fisdas).

    Saya jadi bimbang juga, karena belum belajar. Bahkan ketika saya balik ke kosan untuk ganti baju buat tes alat fisdas, pikiran saya masih dilanda kebimbangan untuk lanjut atau tidak.

    Puncaknya adalah ketika di sampai parkiran teknik, masih dengan posisi duduk di motor, benar-benar bimbang untuk menentukan pilihan apakah tancap gas balik lagi ke kontrakan dan mengundurkan diri seleksi, atau lanjut buat seleksi dengan resiko gak ngerti apa-apa.

    Akhirnya saya mengambil pilihan untuk tetap menyelesaikan yang ada. Gak tahu kenapa keingetan aja pepatah bahwa jangan kalah sebelum berperang, hahaha. Ya akhirnya saya putuskan untuk lanjut ikutan seleksi dengan persiapan yang sangat minim.

    Dan benar saja, disana saya sangat improve buat tes alat, bener-bener kacau dah.

    Tapi ternyata setelah pengumuman tes alat dipublikasi minggu depan, SAYA LOLOS.

    Bahkan seiring dengan seleksi yang saya jalani selanjutnya, saya bisa berdiri disini, sebagai asisten praktikum Laboratorium Fisika Dasar.

    Keberuntungan-lah yang membuat saya memilih untuk siap mati saat tes alat, tapi ternyata hasilnya bisa semanis ini. 🙂

  3. Terlahir di keluarga yang disiplin

    Pada saat saya kecil dulu, saya didik dengan cara disiplin.Ingat disiplin berbeda dengan keras ya, hehehe.Jadi disiplin disini tuh, saya dibiasakan dengan banyak aturan. Seperti saya harus pulang ke rumah jam berapa, saya harus tidur jam berapa, saya harus bangun jam berapa, saya harus makan setiap jam berapa.

    Bahkan untuk jajan saja, saya tidak dibiasakan untuk hal tersebut. Jadi pas SD, saat teman-teman yang lain beli jajanan di kantin, saya sudah cukup dengan bekal makanan dan minuman dari rumah. Kadang-kadang sih dikasih uang jajan, itupun hanya seribu rupiah. Tapi dengan uang segitu pada jaman SD dulu tuh seneng kok, karena bisa saya pakai buat beli teh sisri atau arinda (masih ada gak ya jajanan itu hahaha).

    Impactnya terasa saat SMP. Jadi saat SMP, saya bersekolah di SMP yang mengharuskan untuk naik angkot setiap harinya. Jadi mau gak mau saat itu saya diberi uang jajan setiap harinya. Terasa sekali karena saya terbiasa untuk tidak jajan saat SD, jadi saya terbiasa untuk menahan diri tidak membeli jajanan yang tidak terlalu penting. Kalau habis ya udah, kalau sisa ditabung, sampai cukup buat beli buku. :))

    Keberuntungan saya rasakan saat kemarin, orangtua saya bilang kalau cara mendidik orangtua itu berbeda-beda, tidak bisa disamakan cara mendidik orangtua kita dengan orangtua teman kita yang lain.

    Mungkin kita pada saat bayi, jangankan berpikir untuk masa depan, bahkan ditempatkan di rahim siapa pun kita masih belum tahu dimana, hanya Tuhan yang menentukan. Dan, sebuah keberuntungan saya bisa dilahirkan di tengah keluarga yang mendidik saya dengan cara seperti ini. 🙂

~~~

Berapa kali kita bergumam bahwa itu hanya keberuntungan saja sih, mungkin harus diimbangi juga dengan

Bersyukur!

Ya, karena keberuntungan itu tidak semata-mata datang. Tetapi memang sudah digariskan oleh Tuhan. 🙂

 

Bagikan!Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn